Jun
24

BUMI ALLAH ITU LUAS…

Sahabat2ku yang mau ke eiffel, Wisata desa dan nelayan Amsterdam, menikmati coklat belgia yg terkenal dan main salju abadi di mt titlis swiss,,, yuuuk gabung bersama kami dalam program :

*😍BEAUTIFUL WEST EUROPE😍*

✅ karena banyak peminat maka kami buatkan lagi grup di 3 tanggal : 3 Oct / 23 oct / 7 nov 2017
✅6 NEGARA : Perancis, Belgia, Belanda, Jerman, Swiss, Italia.
✅9 KOTA : Paris, brussel, Amsterdam, volendam, Koln, Frankfurt, Lucerne, Engelberg, Milan.
✅Hotel setaraf bintang 4/3
✅Bis executive
✅Halal food
✅fasilitas waktu dan tempat Sholat
✅Pesawat Etihad
✅Harga Rp.27.5 juta
Include :
• Tiket economy PP
• Tax & fuel surcharge
• Tiket cable Car ke salju abadi mt.Titlis
• TL dari jakarta
• Guide Muslim

Exclude :
• Visa schengen & Asuransi
• Tipping
• program optional

✅TOUR LEADER : Ahmad Milady
✅ syarat pendaftaran awal copy paspor dan DP 5 juta saja
✅Pendaftaran akhir 13 juli atau saat kuota telah terpenuhi.

More info ;
*MILADY GROUP*
087877350984 08159006627

Jun
16

Allah berfirman :

“Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. Mereka itu tempatnya Jahannam dan mereka tidak memperoleh tempat lari daripadanya. Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah? ” ( Annisa ;120 – 122 )

Saudaraku… Iblis yang memang sengaja Allah hadirkan dalam panggung kehidupan ini dengan peran antagonisnya, tentu saja ia akan berperan sebaik mungkin sesuai dengan lakon yang dilekatkan pada dirinya. Manusia sebagai pemeran utama episode alam dunia ini hendaknya juga mampu menjalankan dan memainkan fungsinya sesuai dengan petunjuk scenario sang Maha Pengatur Kehidupan yakni Allah SWT. Dalam Ayat ini Allah menjelaskan tentang cara cara Syeithan, taktik dan strategi mereka dalam menyesatkan ummat manusia dari alur scenario yang sejati, diantaranya adalah dengan memberi janji janji manis, bisikan bisikan surga yang tanpa bukti dan kebenaran nyata. Lalu ditanamkan pula angan angan kosong, hembusan tumpukan andaikata, umpamanya, dlsb. Yang menyebabkan banyak sekali manusia tertipu dan terpedaya dalam irama dosa dan kedurhakaan. Padahal Dalam QS. Ibrahim ; 22 telah dijelaskan tentang pengakuan syeithan akan kebohongan janjinya itu:

” Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan : “Sungguh Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah berjanji padamu lalu aku mengingkarinya. Sekali-kali tiada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku mengajakmu lalu kamu mematuhiku, karena itu jangan kamu mencerca aku, tapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku”.

ITS CLEAR… Sudah jelas sekali bahwa syiethan sendiri mengakui bahwa janjinya itu hanya angan angan kosong, ajakan dan tawaran mereka tentang angin surga itu hanyalah tipu daya dan bujuk rayu semu yang tidak akan pernah terwujud, pertanyaannya adalah mengapa kita mau ditipu olehnya ?

Sementara itu, janji Allah adalah sebuah kebenaran dan pasti terwujudnya, karna Dia Maha Kuasa mengabulkan semua itu, Dia Maha KAya dan sangatlah mudah bagi-Nya merealisasikan kebenaran janji-Nya. LALU APA KIAT-nya agar kita selalu terlindung dari bujuk rayu syeithan tersebut ???

1. PERKUAT IMAN DAN BIASAKAN BERBUAT BAIK. hanya orang orang beriman dan beramal sholeh sajalah yang mampu meyakini semua KEBENARAN JANJI ALLAH itu. Tanpa keimanan yang mantap niscaya manusia akan sangat mudah sekali terperdaya dengan janji janji palsu syeithan.
2. Bacalah ayat ayat Allah yang tertulis (ALQURAAN). Karena dengan membacanya kita akan semakin memahami bahwa apa yang dijanjikan syeitan itu adalah sebuah kebohongan besar yang akan sangat merugikan diri kita sendiri.
3. Baca pula ayat ayat Allah yang tampak. Sudah banyak contoh yang Allah hadirkan dalam kehidupan ini tentang sosok manusia yang mengikuti janji jani Iblis, mungkin awalnya mereka senang namun diujung perjalanan hidupnya hanyalah kesengsaraaan yang menemani sisa sia umru mereka.
4. BERDOA MOHON PERLINDUNGAN-NYA. Siapa yang Maha Kuat yang dapat menolong kita dari tipu daya syeithan itu selain ALLAH ??? apalah daya kita, seberapa besar upaya kita, semua tiada artinya tanpa perkenan dan pertolongan darinya, karena itu bermohonlah hanya kepada Allah agar kita terselamatkan dari godaan syeithan yang terkutuk.

Walloohu a’lam bis-showaab…. Demikian note sederhana ini, semoga ada manfaatnya… SEMOGA KITA SELALU TERLINDUNG DARI BUJUK RAYU IBLIS DAN JANJI JANJI PALSU SYEITHAN ITU…. AAMIIIN … SALAAM…

Jun
09

Telah kita ketahui, betapa pentingnya dan besarnya peranan ikhlas dalam sebuah amalan, karena sebuah amalan tidak akan diterima di sisi Allah jika pelakunya tidak mengikhlaskan amalannya tersebut karena Allah subhanahu wata’ala.
Dan ada beberapa keutamaan dan buah yang bisa dipetik dari keikhlasan kepada Allah subhanahu wata’ala, di antaranya adalah:

1. Mendapatkan syafa’at Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam
Shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagia dengan mendapatkan syafa’at engkau pada hari kiamat nanti?” Beliau menjawab:

مَنْ قَالَ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ

“Orang yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah dengan ikhlas dari lubuk hatinya.” (HR. Al Bukhari)
Makna ikhlas di sini adalah dia mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dengan sekaligus menjalankan konsekuensi-konsekuensi dari kalimat tersebut, yakni dia harus benar-benar mempersembahkan amal ibadahnya kepada Allah subhanahu wata’ala dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Allah berfirman (artinya):
“Dan beribadahlah hanya kepada Allah dan jangan engkau menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (An Nisa’: 36)

2. Dibukakan baginya pintu-pintu langit
Hal ini berdasarkan sabda Nabi :

مَا قَالَ عَبْدٌ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله قَطٌّ مُخْلِصًا, إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ, حَتَّى يُفْضِيَ إِلَى الْعَرْشِ, مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

“Tidaklah seorang hamba mengucapkan Laa Ilaaha Illallah dengan ikhlas, kecuali pasti akan dibukakan baginya pintu-pintu langit, sampai dia dibawa ke ‘Arsy (tempat beristiwa’nya Allah), selama dia menjauhi perbuatan dosa-dosa besar.” (HR.Tirmidzi)

3. Diharamkan baginya An Nar (Neraka)
Sesungguhnya An Nar itu haram dimasuki oleh orang-orang yang ikhlas kepada Allah subhanahu wata’ala sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذِهِ اْلأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا, بِدَعْوَتِهِمْ, وَصَلاَتِهِمْ, وَإِخْلاَصِهِمْ

“Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala menolong umat ini dengan adanya kaum yang lemah di antara mereka, dengan doa mereka, dengan shalat mereka, dan dengan keikhlasan yang ada pada mereka.” (HR. An Nasa’i)

7. Dilapangkan dari masalah yang sedang menghimpitnya.
Terkadang seorang muslim dihadapkan pada suatu masalah yang sangat pelik yang terkadang menjadikan dia berputus asa dalam mengatasinya. Namun amalan-amalan yang dilakukan dengan ikhlas dapat dijadikan sebagai wasilah (perantara) dalam berdo’a kepada Allah subhanahu wata’ala untuk dihilangkannya berbagai masalah yang sedang menghimpitnya?
Hal ini pernah menimpa tiga orang pada zaman dahulu ketika mereka terperangkap di dalam sebuah goa. Kemudian Allah subhanahu wata’ala selamatkan mereka karena do’a yang mereka panjatkan disertai dengan penyebutan amalan-amalan shalih yang mereka lakukan ikhlas karena Allah.
Kisah selengkapnya bisa anda baca di kitab Riyadhush Shalihin hadits no. 12.

8. Husnul Khatimah
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menceritakan bahwa pada zaman dahulu ada seseorang yang telah membunuh 99 bahkan 100 orang. Kemudian orang tersebut hendak bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala, tetapi akhirnya orang tersebut meninggal sebelum beramal kebajikan sedikitpun.
Namun Allah subhanahu wata’ala terima taubatnya karena keikhlasan dia untuk benar-benar bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala, dan dia pun tergolong orang yang meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
Kisah selengkapnya juga bisa anda baca di kitab Riyadhush Shalihin hadits no. 20.

9. Benteng dari godaan syetan.
Setan dan bala tentaranya akan senantiasa menggoda umat manusia seluruhnya sampai hari kiamat. Namun hanya orang-orang yang ikhlaslah yang akan selamat dari godaan mereka ini. Hal ini diakui sendiri oleh pimpinan para setan yaitu iblis, sebagaimana Allah subhanahu wata’ala sebutkan pengakuannya itu dalam Al Qur’an (artinya):
“Iblis berkata: “Wahai Tuhanku, oleh sebab Engkau telah menyesatkanku, pasti aku akan menjadikan mereka (anak cucu Adam) memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka.” (Al Hijr: 39-40)

10. Selamat dari jurang kemaksiatan.
Tercatat dalam sejarah, bagaimana dahsyatnya godaan yang dialami Nabi Yusuf ? ketika diajak berzina oleh seorang istri pejabat negeri waktu itu. Namun Allah subhanahu wata’ala selamatkan dia dan Allah subhanahu wata’ala palingkan dia dari perbuatan tersebut. Allah subhanahu wata’ala kisahkan peristiwa ini di dalam Al Qur’an (artinya):
“Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian.” (Yusuf: 24)
Apa sebabnya?
“Sesungguhnya dia (Yusuf) itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas.” (Yusuf: 24)

11. Senantiasa di atas kebaikan.
Diriwayatkan oleh Ja’far bin Hayyan dari Al Hasan, bahwa Rasul pernah berkata: “Senantiasa seorang hamba itu berada dalam kebaikan, jika berkata (ia ikhlas) karena Allah, dan jika beramal (ikhlas) karena Allah ta’ala.”      (Abd.Aziz Ar Rauuf)

Mei
29

Semua kaum Muslim berkeyakinan bahwa dunia dan kehidupan ini akan berakhir. Akan datang suatu saat ketika manusia berkumpul di pengadilan Allah Swt. Al-Qur’an menceritakan berkali-kali tentang peristiwa Hari Kiamat ini, seperti yang disebutkan dalam surah Al- Ghasyiyah ayat 1-16.

Dalam surah itu, digambarkan bahwa tidak semua wajah ketakutan. Ada wajah-wajah yang pada hari itu cerah ceria. Mereka merasa bahagia dikarenakan perilakunya di dunia. Dia ditempatkan pada surga yang tinggi. Itulah kelompok orang yang di Hari Kiamat memperoleh kebahagiaan.

Tentang wajah-wajah yang tampak ceria dan gembira di Hari Kiamat, Rasulullah pernah bersabda, “Semua mata akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga hal. Pertama, mata yang menangis karena takut kepada Allah Swt. Kedua, mata yang dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan Allah. Ketiga, mata yang tidak tidur karena mempertahankan agama Allah.”

Mari kita melihat diri kita, apakah mata kita termasuk mata yang menangis di Hari Kiamat?

Dahulu, dalam suatu riwayat, ada seorang yang kerjanya hanya mengejar-ngejar hawa nafsu, bergumul dan berkelana di teinpat-tempat maksiat, dan pulang larut malam.Dari tempat itu, dia pulang dalam keadaan sempoyongan. Di tengah jalan, di sebuah rumah, lelaki itu mendengar sayup-sayup seseorang membaca Al-Quran.

Ayat yang dibaca itu berbunyi: “Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kenudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang yang fasik (Qs 57: 16).

Sepulangnya dia di rumah, sebelum tidur, lelaki itu mengulangi lagi bacaan itu di dalam hatinya. Kemudian tanpa terasa air mata mengalir di pipinya. Si pemuda merasakan ketakutan yang luar biasa. Bergetar hatinya di hadapan Allah karena perbuatan maksiat yang pemah dia lakukan. Kemudian ia mengubah cara hidupnya. Ia mengisi hidupnya dengan mencari ilmu, beramal mulia dan beribadah kepada Allah Swt. sehingga di abad kesebelas Hijri dia menjadi seorang ulama besar,
seorang bintang di dunia tasawuf.

Orang ini bernama Fudhail bin Iyadh. Dia kembali ke jalan yang benar karena mengalirkan air mata penyesalan atas kesalahannya di masa lalu lantaran takut kepada Allah Swt. Berbahagialah orang-orang yang pernah bersalah dalam hidupnya kemudian menyesali kesalahannya dengan cara membasahi matanya dengan air mata penyesalan. Mata seperti itu insya Allah termasuk mata yang tidak menangis di Hari Kiamat.

Kedua, mata yang dipalingkan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Seperti telah kita ketahui bahwa Rasulullah pernah bercerita tentang orang-orang yang akan dilindungi di Hari Kiamat ketika orang-orang lain tidak mendapatkan perlindungan. Dari ketujah orang itu salah satu di antaranya adalah seseorang yang diajak melakukan maksiat oleh perempuan, tetapi dia menolak ajakan itu dengan mengatakan, “Aku takut kepada Allah”.

Nabi Yusuf as. mewakili kisah ini. Ketika dia menolak ajakan kemaksiatan majikannya. Mata beliau termasuk mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat, lantaran matanya dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan oleh Allah Swt.

Kemudian mata yang ketiga adalah mata yang tidak tidur karena membela agama Allah. Seperti mata pejuang Islam yang selalu mempertahahkan keutuhan agamanya, dan menegakkan tonggak Islam. Itulah tiga pasang mata yang tidak akan menangis di Hari Kiamat, yang dilukiskan oleh Al-Quran sebagai wajah-wajah yang berbahagia di Hari Kiamat nanti. Wallahualam bis-showaab…. Renungan Sufistik Kang Jalal

Mei
29

KATABAHAA : AHMAD MILADY

” BERLAKU IKHLASLAH ENGKAU ! MAKA CUKUPLAH AMALMU YANG SEDIKIT ” (HR. HAKIM)

Subhaanallaah… amal kita yang sedikit jika dilandasi dengan keikhlasan, maka amal itulah yang akan menolong dan mengantarkan kita Ridlo Allah SWT. kita (apalagi jika amal kita banyak yaa… )

Fudhail bin Iyadh pernah memberi komentar tentang ayat 2 surat Al-Mulk, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalaa, supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” Menurutnya, maksud “yang lebih baik amalnya” adalah amal yang didasari keikhlasan dan sesuai dengan sunnah Nabi saw. Seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang dimaksud dengan amal yang ikhlas dan benar itu?” Fudhail menjawab, “Sesungguhnya amal yang dilandasi keikhlasan tetapi tidak benar maka amal itu tidak diterima oleh Allah swt. Sebaliknya, amal yang benar tetapi tidak dilandasi keikhlasan juga demikian. Amal perbuatan itu baru bisa diterima Allah jika didasari keikhlasan dan dilaksanakan dengan benar. Yang dimaksud ‘ikhlas’ adalah amal perbuatan yang dikerjakan semata-mata karena Allah, dan yang dimaksud ‘benar’ adalah amal perbuatan itu sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.” Setelah itu Fudhail bin Iyad membacakan surat Al-Kahfi ayat 110, “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

Ciri Keikhlasan

1. mengutamakan keridhaan Allah diatas segalanya
Saat dihadapkan pada 2 pilihan, dapat untung besar tapi dengan cara menipu rakyat, atau untung kecil tapi Allah ridlo, maka orang yang ikhlas lebih suka memilih untung kecil yang penting disitu terdapat keridloan Allah, karna ia sadar jika Allah sudah ridlo maka apa yang harus ia takutkan, bukanka Allah Pemilik kerajaan langit dan bumi ? bukankah Allah penguasa semesta raya ?? orang yang ikhlas akan memilih seperti pilihan pilihan Masyithoh si tukang sisir keluarga Fir’aun saat ia lebih memilih keridhaan Allah daripada harus menyembah Fir’aun.

2. lebih suka menyembunyikan ‘amal kebajikan
Orang yang tulus adalah orang yang tidak ingin amal perbuatannya diketahui orang lain. Ibarat pohon, mereka lebih senang menjadi akar yang tertutup tanah tapi menghidupi keseluruhan pohon. Ibarat rumah, mereka pondasi yang berkalang tanah namun menopang keseluruhan bangunan.
Suatu hari Umar bin Khaththab pergi ke Masjid Nabawi. Ia mendapati Mu’adz sedang menangis di dekat makam Rasulullah saw. Umar menegurnya, “Mengapa kau menangis?” Mu’adz menjawab, “Aku telah mendengar hadits dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, ‘Riya (pamer ibadah) sekalipun hanya sedikit, ia termasuk syirik. Dan barang siapa memusuhi kekasih-kekasih Allah maka ia telah menyatakan perang terhadap Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang baik, takwa, serta tidak dikenal. Sekalipun mereka tidak ada, mereka tidak hilang dan sekalipun mereka ada, mereka tidak dikenal. Hati mereka bagaikan pelita yang menerangi petunjuk. Mereka keluar dari segala tempat yang gelap gulita.” (Ibnu Majah dan Baihaqi)

3. Menyadari kekurangan diri
Orang yang ikhlas selalu merasa dirinya memiliki banyak kekurangan. Ia merasa belum maksimal dalam menjalankan segala kewajiban yang dibebankan Allah swt. Karena itu ia tidak pernah merasa ujub dengan setiap kebaikan yang dikerjakannya. Sebaliknya, ia cemas terhadap amal yang dilakukannya tidak diterima Allah swt..
Aisyah r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang maksud firman Allah: “Dan orang-ornag yang mengeluarkan rezeki yang dikaruniai kepada mereka, sedang hati mereka takut bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” Apakah mereka itu orang-orang yang mencuri, orang-orang yang berzina, dan para peminum minuman keras, sedang mereka takut akan siksa dan murka Allah ‘Azza wa jalla? Rasulullah saw. menjawab, “Bukan, wahai Putri Abu Bakar. Mereka itu adalah orang-orang yang rajin shalat, berpuasa, dan sering bersedekah, sementera mereka khawatir amal mereka tidak diterima. Mereka bergegas dalam menjalankan kebaikan dan mereka orang orang yang berlomba.” (HR. Ahmad).

4. tidak perduli dengan popularitas
Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata, “Sedikit sekali kita melihat orang yang tidak menyukai kedudukan dan jabatan. Seseorang bisa menahan diri dari makanan, minuman, dan harta, namun ia tidak sanggup menahan diri dari bujuk rayu kekuasaan. Bahkan, ia tidak segan-segan merebutnya meskipun harus menjegal kawan atau lawan.” Karena itu tak heran jika para ulama salaf banyak menulis buku tentang larangan mencintai popularitas, jabatan, dan riya.
Fudhail bin Iyadh berkata, “Jika Anda mampu untuk tidak dikenal oleh orang lain, maka laksanakanlah. Anda tidak merugi sekiranya Anda tidak terkenal. Anda juga tidak merugi sekiranya Anda tidak disanjung ornag lain. Demikian pula, janganlah gusar jika Anda menjadi orang yang tercela di mata manusia, tetapi menjadi manusia terpuji dan terhormat di sisi Allah.”

5. Keikhlasan hadir saat kita sabar terhadap usaha dan perjuangan yang panjang.
Keikhlasan akan diuji oleh waktu. Sepanjang hidup Anda adalah ujian. Ketegaran Anda untuk menegakkan kalimatNya di muka bumi meski tahu jalannya sangat jauh, sementara hasilnya belum pasti dan kesulitan sudah di depan mata, amat sangat diuji. Hanya orang-orang yang mengharap keridhaan Allah yang bisa tegar menempuh jalan panjang itu. Seperti Nabi Nuh a.s. yang giat tanpa lelah selama 950 tahun berdakwah. Seperti Umar bin Khaththab yang berkata, “Jika ada seribu mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada seratus mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada sepuluh mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada satu mujahid berjuang di medan juang, itulah aku!”

6. Ikhlas ada saat kita merasa senang pada kelebihan yang dimiliki orang lain
Yang paling sulit adalah menerima orang lain memiliki kelebihan yang tidak kita miliki. Apalagi orang itu junior kita. Hasad. Itulah sifat yang menutup keikhlasan hadir di relung hati kita. Hanya orang yang ada sifat ikhlas dalam dirinya yang mau memberi kesempatan kepada orang yang mempunyai kemampuan yang memadai untuk mengambil bagian dari tanggung jawab yang dipikulnya. Tanpa beban ia mempersilakan orang yang lebih baik dari dirinya untuk tampil menggantikan dirinya. Tak ada rasa iri. Tak ada rasa dendam. Jika seorang leader, orang seperti ini tidak segan-segan membagi tugas kepada siapapun yang dianggap punya kemampuan.

Kiat untuk menjadi orang yang ikhlas itu ada pada kata kunci ” BISA KARENA BIASA “, memang betul ikhlas itu berat, tidak semudah mengedipkan mata, tak segampang membalikkan telapak tangan, karena itu :

1.teruslah berlatih dan berusaha sebisa mungkin untuk bisa menjadi sosok pribadi yang Ikhlash,
2.terus belajar dan belajar, agar kita bisa dengan jelas memahami manfaat ikhlash ini dan menyadari betapa ruginya kita jika beramal dan beraktifitas tanpa didasari nilai keikhlasan.
3.mohon bimbingan dan tuntunan Allah agar selalu diarah kepada jalannya orang orang yang ikhlash “ALLOHUMMAJ’ALNII MIN ‘IBAADIKAL MUKHLISHIIN”
” YAA ROBB… JADIKANLAH AKU TERMASUK GOLONGAN HAMBA HAMBAMU YANG IKHLASH …. “

Mei
28

KATABAHAA : AHMAD MILADY

Islam sebagai agama, bukanlah sekedar kumpulan kumpulan kewajiban yang terkadang terkesan hanya sebagai beban. Islam bukanlah cuma simbol simbol dan atribut atribut yang seringkali kita tampakkan… Lebih dari itu, Islam merupakan sebuah sikap hidup dan penuntun ummat manusia menuju tepian pantai negeri kebahagiaan. Nah, Untuk sampai pada makna eSsensial yang dikehendaki itu, dalam QS. Al Baqarah : 208 Allah mengajak kita semua untuk mampu berislam dan mengaktualisasikan nilai nilai keislaman itu secara utuh dan menyeluruh.

“ Wahai orang orang yang beriman ! masuklah kalian kedalam Islam secara utuh / menyeluruh ,,, “

Mohon maaf, hal ini menjadi sangat penting untuk saya angkat ke permukaan, karena — menurut hemat saya — selama ini kita baru bisa menangkap keluasan samudera keberislaman kita itu secara parsial (sebagian saja), kita seringkali baru bisa berislam ketika berada didalam masjid, sementara di kantor kita lepaskan keislaman kita, di pasar, ditengah tengah pergaulan kita copot PAKAIAN keberagamaan kita. kita baru berani mengaku Islam ketika bulan ramadhan, lihat saja ketika bulan ramadhan tiba, hampir seluruh STASIUN TV menyajikan tayangan tayangan dan menu acara yang bernafaskan Islam –alhamdulillaah–, tapi sayangnya, selesai ramadhan selesai pulalah geliat nafas nafas keislaman itu… Tidak salah jika 15 abad yang silam Rasul telah bersabda, diakhir zaman nanti akan muncul fitnah / bencana bencana besar dalam kehidupan manusia, suasananya gelap gulita bak gelapnya malam tanpa pelita, dan salah satu dari fitnah / bencana itu adalah, “ ada seseorang yang pagi harinya muslim tapi ketika sore tiba segera berubah menjadi kafir. Atau sebaliknya, saat petang ia mengaku sebagai Mukmin tapi ketika bangun tidur segera berubah menjadi kafir kembali“. Na’uudzubillah.

Saudaraku… situasi dan kondisi seperti ini rasanya sudah hampir merata terjadi ditengah tengah kehidupan kita. Sebuah pertanyaan atau mungkin juga ini sebuah kegelisahan kita semua adalah, kenapa dinegeri yang Muslimnya terbesar di seluruh dunia ini, namun angka korupsinya begitu tinggi…? Kenapa masih banyak orang yang mengerjakan shalat, bahkan mungkin telah berhaji namun disisi lain mereka masih juga melakukan perbuatan dosa, masih suka berjudi, melakukan mark up, menyalahgunakan wewenang, dlsb….??? ternyata, Salah satu penyebabnya adalah, karena kita kerapkali merasa bahwa yang disebut Islam itu adalah ketika kita sudah melakukan rangkaian urutan urutan rukun Islam, seperti syahadat, shalat, puasa, zakat dan hajji. Sebagian lagi ada juga yang merasa bahwa yang disebut Islam itu adalah ketika kita mengenakan baju taqwa putih, memakai sorban dan peci sambil memutar mutar tasbih, Itu tidak salah, tapi jangan puas dan jangan berhenti sampai disitu, karena masih banyak nilai nilai hakiki dari islam yang justru sering kali kita lupakan. Islam sebagai ajaran etika dan moral, islam sebagai ajaran kasih sayang, islam sebagai ajaran kedamaian dan perdamaian…. dst.

RENUNGAN INI BUKAN SEBUAH PENYESALAN ATAU INGIN MENYALAHKAN… RENUNGAN INI ADALAH SEBUAH AJAKAN AGAR HIDUP KITA KE DEPAN SEMAKIN BAIK DI ATAS NILAI NILAI UTUH KEBERISLAMAN… SEMOGA,,,

Mei
28

I. Definisi Akhlaq

Beberapa definisi akhlaq antara lain adalah :

1. Menurut Ibnu Abbas Ra ketika menafsirkan firman Alloh Subhanahu wa Ta’alaa dalam surat Al Qolam ayat 4 yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlaq yang agung”, akhlaq yang agung tersebut adalah dien yang agung (Islam).

Demikian pula pendapat Mujahid, Abu Malik, As Suddi, Rabi bin Anas, Ad Dhahak, dan Ibnu Zaid. Didalam Shohih Muslim, Aisyah ra pernah ditanya tentang akhlaq Nabi Saw, lalu beliau menjawab bahwa akhlaq Beliau Saw adalah Al Quran, karena segala perintah yang terdapat didalam Al Quran beliau laksanakan dan segala larangan yang terdapat didalamnya beliau tinggalkan. Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali berkata “Dengan ini menjadi jelas bahwa akhlaq yang agung dimana Nabi disifati dengannya adalah dien yang mencakup semua perintah-perintah Alloh Ta’alaa dan larangan-Nya, sehingga bersegera untuk melaksanakan segala yang dicintai Alloh dan di ridloi-Nya dan menjauhi segala yang dibenci dan dimurkai-Nya dengan sukarela dan lapang dada” (Makarimul Akhlaq/23) .

2. Ibnul Atsir menyebutkan dalam An Nihayah (2/70) tentang “al khuluqu” dan “al khulqu” yang berarti dien, tabiat dan sifat. Syaikh ‘Utsaimin menerangkan tentang hakikatnya adalah potret batin manusia yaitu jiwa dan kepribadiannya (Makarimul Akhlaq, hal 9).

3. Al Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah menyebutkan beberapa pendapat tentang definisi akhlaq didalam bukunya Madarijus Saalikin antara lain akhlaq yang baik adalah berderma, tidak menyakiti orang lain dan tangguh menghadapi penderitaan. Pendapat lain menyebutkan bahwa akhlaq yang baik adalah berbuat kebaikan dan menahan diri dari keburukan. Ada lagi yang mengatakan, “membuang sifat-sifat yang hina dan menghiasinya dengan sifat-sifat mulia”

4. Imam Ibnu Qudamah menyebutkan dalam Mukhtashor Minhajul Qoshidiin bahwa akhlaq merupakan ungkapan tentang kondisi jiwa, yang begitu mudah menghasilkan perbuatan tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan, jika perbuatan itu baik maka disebut akhlaq yang baik, dan jika buruk maka disebut akhlaq yang buruk.

II. Keutamaan akhlaq yang baik

Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilali menyebutkan keutamaan-keutamaan akhlaq yang mulia yaitu :

1. Akhlaq yang mulia merupakan penyebab masuknya orang yang memiliki akhlaq yang mulia tersebut kedalam Jannah (surga)

Nabi Saw bersabda yang artinya “Saya adalah penjamin bagi orang yang meninggalkan mira (debat kusir) meskipun ia ada dipihak yang benar dengan mendapatkan rumah di jannah terendah dan bagi orang yang baik akhlaqnya akan mendapatkan rumah di jannah yang tertinggi” (hadits riwayat Abu Daud/4800, Al Mizzi dalam Tahdzibul Kamal, dengan sanad yang hasan)

Hadits lainnya yaitu dari Abu Huroiroh Rodliyallohu ‘anhu bahwasannya Rosululloh Saw pernah ditanya tentang perbuatan yang menyebabkan banyak manusia yang masuk Jannah, maka beliau menjawab yang artinya “Takwa kepada Alloh dan akhlaq yang baik”, beliau ditanya pula tentang penyebab yang menjadikan banyak manusia masuk neraka, maka beliau menjawab “mulut dan kemaluan” (diriwayatkan Tirmidzi (2003), Ibnu Majah (4246), Ahmad (2/291, 392, 442), Ibnu Hibban (Mawarid, 1923), Al Baghowi (Ma’alim At Tanziil, 4/377 dan Syarhu As Sunnah 13/79-80, Al Khoroithi (Makarimul Akhlaq hal. 10), dan Bukhori (Al Adab Al Mufrod, 442). Sanad hadits ini hasan

2. Akhlaq yang mulia merupakan penyebab seorang hamba dicintai Alloh

Rosululloh Saw bersabda yang artinya “Hamba-hamba Alloh yang paling dicintai-Nya adalah yang paling baik akhlaqnya diantara mereka” (hadits riwayat Thabrani (471) dan Hakim (4/399-401)

3. Akhlaq yang mulia merupakan penyebab seorang hamba dicintai

Rosululloh Saw. Beliau Saw bersabda yang artinya “Sesungguhnya yang paling aku cintai diantara kalian dan yang paling dekat dengan majelisnya dariku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaqnya diantara kalian” (hadits riwayat Tirmidzi (2018) dengan sanad yang hasan, dan memiliki penguat yang diriwayatkan Imam Ahmad (2/189) dengan sanad yang shohih, sehingga kesimpulannya hadits ini shohih lighoirihi)

4. Akhlaq yang mulia mendapatkan timbangan yang paling berat di hari kiamat.

Rosululloh Saw bersabda yang artinya “Sesuatu yang paling berat dalam timbangan seorang mukmin di hari kiamat adalah akhlaq yang baik” (hadits riwayat Abu Daud (4799), Ahmad (6/446-448), Ibnu Hibban (481) dan selain mereka)

5. Akhlaq yang mulia meninggikan derajat seseorang disisi Alloh

Rosululloh Saw bersabda yang artinya “Sesungguhnya seseorang itu dengan sebab akhlaqnya yang baik, sungguh akan mencapai derajat orang yang sholat malam dan shaum di siang hari” (hadits shohih riwayat Abu Daud (4798), Hakim (1/60) dan selainnya). Beliau Saw juga bersabda yang artinya “Sesungguhnya seorang muslim yang dibimbing lurus (oleh Alloh) benar-benar akan mencapai derajat ahli shaum dan ahli ibadah (sholat) yang selalu melantunkan ayat-ayat Alloh disebabkan karakternya yang mulia dan akhlaqnya yang baik” (hadits shohih riwayat Ahmad (2/17 dan 220)

6. Akhlaq yang mulia merupakan sebaik-baik amalan manusia

Rosululloh Saw bersabda yang artinya ” Wahai Abu Dzar, maukah aku tunjukkan kepadamu dua hal ; keduanya itu sangat ringan dipikul dan sangat berat dalam timbangan dibandingkan selain keduanya?” Abu Dzar menjawab, “Tentu wahai Rosululloh.”, beliau bersabda, “Engkau harus berakhlaq yang baik dan harus banyak diam, demi yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidak ada amalan manusia yang menyamai keduanya.” (diriwatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam As Shamt (112 dan 554), Al Bazzar (Kasyful Atsar, 4/220) dan lain-lain. Hadits ini derajatnya hasan

7. Akhlaq yang mulia menambah umur

8. Akhlaq yang mulia menjadikan rumah makmur

Rosululloh Saw bersabda yang artinya “Akhlaq yang baik dan bertetangga yang baik, keduanya menjadikan rumah makmur dan menambah umur” (hadits shohih riwayat Ahmad, 6/159)

Dari uraian tentang definisi dan keutamaan akhlaq diatas, semoga menjadikan kita dapat mengerti tentang akhlaq menurut ahli ‘ilmu yang benar-benar ahli dibidangnya yaitu ‘ilmu syar’i yang mulia dan menjadikan kita tidak salah kaprah dalam memahaminya karena pada umumnya banyak orang yang memandang akhlaq hanya sebagai sesuatu yang berkaitan tentang hubungan manusia dengan sesama manusia saja, padahal akhlaq juga mencakup hubungan manusia dengan Yang Mahatingg, Yang ada di atas Arsy sana, Yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar, dan tidak ada yang serupa dengan-Nya yaitu Alloh Subhanahu wa Ta’alaa, Dialah Pencipta manusia, sehingga hanya Dialah yang Mahatahu tentang apa yang terbaik buat para hamba-Nya sehingga Dia memerintahkannya melalui KalamNya yang mulia yaitu Al Quran dan melalui lisan utusannya yang mulia yaitu Nabi Muhammad Saw. Wallahu a’lam… (TIM DA’WATUNA)