PUASA RAJAB


Didalam alquran ada bulan suci yang disebut sebagai Asyhuril hurum, 3 bulan beriringan : Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan 1 bulan terpisah sendiri yaitu Rajab. Puasa Rajab, sebagaimana dalam bulan-bulan mulya lainnya, hukumnya sunnah.
Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah bersabda “Puasalah pada bulan-bulan haram(mulya).” (Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad).
Hadis lainnya adalah Riwayatnya al-Nasa’i dan Abu Dawud (dan disahihkan oleh Ibnu Huzaimah): “Usamah berkata pada Nabi saw, ‘Wahai Rasulullah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunat) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya’ban.’ Rasul menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan
oleh kebanyakan orang.'”

ungkapan Nabi “Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan kebanyakan orang” itu secara implisit menunjukkan bahwa bulan Rajab juga disunnahkan melakukan puasa di dalamnya.( al-Syaukani dalam kitab Naylul Authar)

Ada beberapa hadis lain yang menerangkan keutamaan bulan Rajab :

– Riwayat al-Thabrani dari Sa’id bin Rasyid: Barangsiapa puasa sehari di bulan Rajab maka laksana ia puasa setahun, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya pintu-pintu neraka Jahanam, bila puasa 8 hari dibukakan untuknya 8 pintu sorga, bila puasa 10 hari Allah akan mengabulkan semua permintaannya…..”

– “Barang siapa berpuasa pada bulan Rajab sehari maka laksana ia puasa selama sebulan, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya 7 pintu neraka Jahim, bila puasa 8 hari maka dibukakan untuknya 8 pintu sorga, dan bila puasa 10 hari maka digantilah dosa-dosanya dengan kebaikan.”

– Riwayat (secara mursal) Abul Fath dari al-Hasan, Nabi saw berkata: “Rajab itu bulannya Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadan bulannya umatku.”

– “Sesugguhnya di sorga terdapat sungai yang dinamakan Rajab, airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa puasa sehari pada bulan Rajab, maka ia akan dikaruniai minum dari sungai tersebut”.

Imam Suyuthi mengatakan Hadis-hadis tersebut kurang kuat / dloif (kitab al-Haawi lil Fataawi)
Ibnu Subki meriwayatkan dari Muhamad bin Manshur al-Sam’ani yang mengatakan bahwa tak ada hadis yang kuat yang menunjukkan kesunahan puasa Rajab secara khusus.

Namun demikian, sesuai pendapat al-Syaukani, bila semua hadis yang secara khusus menunjukkan keutamaan bulan Rajab dan disunahkan puasa di dalamnya kurang kuat dijadikan landasan, maka hadis-hadis yang umum (spt yang disebut pertama kali di atas) itu cukup menjadi hujah atau landasan. Di samping itu, karena juga tak ada dalil yang kuat yang memakruhkan puasa di bulan Rajab. (disadur dari Luangkan waktu untuk shalat)

Pesan dari catatan ringan ini :

1. Hadits yang memiliki derajat dlo’if/ lemah boleh dipegang dalam konteks Fadloo-ilul a’mal, dalam meningkatkan semangat ber’amal dan gairah ibadah

2. jangan ragu, teruskan berpuasa sunnah Bulan Rajab dengan catatan jangan mengkhususkan apalagi mengharuskan untuk berpuasa Rajab pada tanggal tertentu saja.

3. wahai saudaraku sesama muslim… Mari kita berhenti dari polemik apakah boleh atau adakah dalil yang kuat mengenai puasa Rajab ini. mencari pegangan yang arjah/paling unggul memng penting tapi jauh lebih penting menjaga nilai 2 persaudaraan sesama muslim demi terciptanya persatuan dan kekuatan ummat.

wallohu a’lam

Belum Ada Tanggapan to “PUASA RAJAB”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: