MARI BERLEBARAN DAN BER’IEDUL FITHRI


Katabaha : Ahmad Milady

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Allohu Akbar 3X walillahil hamdu,
Allah Maha besar 3X selain Dia, kecil semua disisi-Nya,
Saudaraku ‘Aaidiin ‘Aaidaat yang berbahagia,

Segala puji hanya bagi Allah, Robb yang menjadikan hari ini sebagai hari raya kemenangan bagi seluruh ummat, shalawat bertangkaikan salaam semoga kiranya tetap terlimpah ruah, terkirim indah kepangkuan junjungan kita yang mulia Nabi besar Muhammad SAW.

Saudaraku,,, Ramadhan nan suci telah berlalu, bulan agung nan mubaarok itu telah pergi, laksana putri desa yang menanti kedatangan sang pangeran nan tampan elok menawan, seperti itulah rindu kita menanti Ramadhan datang ditahun depan, itupun dengan dalamnya kecemasan, harap dan damba, resah dan gelisah, disisi lain air mata bercampur suka, mengiring langkah pasti Ramadhan pergi. Semesta meneriakkan kepedihannya, jagad raya memekikkan rasa dukanya, bagi si hamba yang sholih diperintahkan padanya untuk menggemakan takbir yang memenuhi segenap cakrawala.

Aa-idiin ‘Aaidaat yang berbahagia,

Pada kesempatan yang sangat berbahagia ini, saya ingin mengajak kita semua untuk mencoba mengamati dan mencermati 2 istilah yang sering kita dengar dalam merayakan hari raya kemenangan seperti ini, 2 istilah yang sering kita gunakan, yang secara kasat mata kelihatannya nyaris sama, namun pada hakikatnya sungguh jauh berbeda. Istilah pertama adalah LEBARAN dan istilah yang kedua adalah ’IEDUL FITRI. Melalui khutbah kali ini saya ingin mengajak kita semua melihat secara jeli dan untuk kemudian kita ajukan pertanyaan dalam diri kita masing masing, apakah sebenarnya kita ini telah ber’’iedul fitri dalam arti yang hakiki, ataukah kita hanya baru sekedar bisa berlebaran dalam makna yang sangat kurang berarti.

Dalam sebuah kesempatan, seorang Ahli Hikmah pernah berkata :

ليس العيد لمن لبس الجديد انما العيد لمن طاعته تزيد

“ Hari raya itu bukanlah bagi mereka yang berpakaian baru, indah dan mewah, namun hari raya yang sesungguhnya itu adalah bagi mereka yang ketha’atannya semakin bertambah “

Hadirin sekalian, dari untaian mutiara kata diatas kita bisa menarik sebuah pemahaman bahwa, jika hari ini kita bersama sama mengenakan pakaian yang sungguh indah mempesona, komposisi warna yang tertata apik nyaris sempurna, banyak orang berdecak kagum melihat penampilan kita, tapi disisi lain, jika kepribadian yang kita miliki ternyata tidak seindah pakaian yang kita kenakan, bila nilai kebaikan dan perilaku kita justru semakin berkurang, maka dengan tegas saya berani berkata bahwa kita baru sekedar berlebaran, belum bisa ber’iedul fitri secara sejati. bila hari ini kita melihat banyak saudara saudara kita yang mudik ke kampung halaman mereka masing masing, berbondong bondong dengan bersusah payah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, berdesak desakan didalam kendaraan, bahkan terkadang cenderung membahayakan jiwanya dan jiwa orang lain, namun jika kembalinya mereka ke kampung halaman tidak disertai dengan kembalinya mereka kepada nilai nilai fitrah dan kemanusiaan, tidak kembali kepada ajakan nurani dan kebajikan, maka saat itulah kita terpaksa harus berkata bahwa mereka baru sekedar berlebaran, tidak sedang ber ’iedul fitri. Dengan kata lain, lebaran adalah sebuah tradisi tahunan yang terus menerus berulang kita lakukan, lebaran itu identik dengan ketupat, lebaran itu baju baru, lebaran itu mudik, lebaran itu kue yang banyak,dll. Mungkin muncul Pertanyaan, apakah terlarang jika hari ini kita memakai pakaian baru ? tentu saja tidak, Allah itu indah senang pada yang indah, bahkan disunnahkan bagi mereka yang hari ini pergi ke masjid, musholla dan tanah lapang untuk memakai pakaian yang terbaik sebagai lambang suka cita dan kemenangan, tapi persoalannya, apa artinya pakaian baru, jika perilaku kita tetap saja sama buruknya seperti yang dulu, apalah guna baju yang indah jika tidak disertai dengan akhlaq yang kariimah. Apakah tidak boleh kita menyediakan aneka macam makanan diatas meja rumah kita ? jawabnya tentu saja boleh, bahkan salah satu ciri orang yang beriman itu adalah mereka yang mampu dan cinta memuliakan tetamunya. Namun apalah artinya makanan yang lezat, apalah gunanya minuman yang ni’mat, jika itu hanya untuk berbangga bangga dalam kesenangan sesaat, apalah maknanya makanan dan minuman yang beraneka rasa, jika itu semua cuma untuk memuaskan nafsu yang baru saja kita kalahkan kemarin. Allohu Akbar. Hari ini, nafsu yang kemarin telah menjadi budak kita, kini telah berubah kembali menjadi raja yang siap kita layani. Nafsu yang pada Ramadhan lalu telah menjadi jinak dan terkendali, saat ini telah berubah wajah menjadi hewan liar yang bebas berlari sambil menari didalam diri.

Dalam pandangan yang sangat bijak, ada sebuah analisa, bahwa pada mulanya lebaran yang merupakan budaya itu adalah kumpulan simbol simbol keberagamaan yang sangat indah dan memiliki makna yang sangat dalam. Mari kita lihat, baju baru itu sebenarnya adalah sebuah simbol bahwa kita ini adalah manusia baru yang telah terlahir kembali seperti bayi. Hari ini, manusia baru itu kemudian berbagi kebahagiaan dengan manusia lainnya yang diwujudkan dalam bentuk silaturrahim, saling beranjang sana dari rumah yang satu ke rumah yang lain, dari situ muncullah budaya menyuguhi tamu dengan aneka makanan dan minuman yang tertata rapih diatas meja, subhaanallooh. Dalam analisa lain, Mudik itu adalah simbol SEBUAH KESADARAN bahwa kita ini semuanya adalah perantau di negeri DUNIA yang kelak sewaktu waktu PASTI akan pulang kembali ke kampung halaman kita di negeri AKHIRAT. Orang yang merantau pasti butuh bekal buat kembali, untuk itulah mereka bekerja keras mati matian di negeri orang, agar bila saatnya pulang nanti mereka punya bekal yang mencukupi, saudaraku, bekal apa yang sudah kita persiapkan untuk pulang mudik ke kampung halaman kita di Akhirat kelak ? Allah menuntun kita :

“ Persiapkanlah bekal ( sebanyak banyaknya ), maka sesungguhnya
sebaik baik bekal itu adalah TAQWA “

jadi, bekal untuk mudik ke kampung akhirat yang paling utama adalah bekal taqwa, dimana mencarinya, salah satunya adalah dibulan ramadhan, bukankah tujuan berpuasa itu la’allakum tattaquun, agar kita menjadi manusia yang bertaqwa… Allohu Akbar.

Dari pemaparan saya diatas, maka kita bisa mengambil satu kesimpulan, bahwa yang dimaksud dengan ‘Iedul fitri adalah kembalinya kita kepada nilai nilai yang suci, idul fitri adalah kesediaan kita kembali mendengar suara hati nurani, idul fitri adalah meningkatnya kualitas budi pekerti, singkatnya, mereka yang beriedul fitri dalam arti yang sesungguhnya itu adalah mereka yang hidupnya akan lebih dekat dengan Allah, lebih baik dengan sesama dan semakin gemar ber’amal sholih sebagai bekal untuk pulang ke negeri akhirat nanti.

Saya jadi berfikir, Pantas saja, jika pada bulan syawwal ini kita diajarkan untuk melaksanakan Puasa Sunnah 6 hari didalamnya, salah satu maksudnya adalah agar jangan sampai kita merayakan hari kemenangan ini dalam hura hura yang melalaikan, sayang seribu kali sayang, 1 bulan lamanya kita bangun istana ketaqwaan nan megah, namun hanya dalam hitungan 1 hari saja kita hancurkan istana tersebut dengan palu keserakahan dan kesombongan. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah. Semoga Allah memberkahi kita semua. Baarokalloohu lii walakum …

Belum Ada Tanggapan to “MARI BERLEBARAN DAN BER’IEDUL FITHRI”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: