SEMESTA BERTAKBIR


Khutbah ‘iedul fithri…
Katabaha : Ahmad milady

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Segala puji hanya bagi Allah, Robb yang menjadikan hari ini sebagai hari raya kemenangan bagi seluruh ummat, shalawat bertangkaikan salaam semoga kiranya tetap terlimpah ruah, terkirim indah kepangkuan junjungan kita yang mulia Nabi besar Muhammad SAW.

Allahu Akbar 3X Walillahil Hamdu,
Aa-idiin ‘Aaidaat yang berbahagia,

Ramadhan nan suci telah berlalu, bulan agung nan mubaarok itu telah pergi, laksana putri desa yang menanti kedatangan sang pangeran nan tampan elok menawan, seperti itulah rindu kita menanti Ramadhan datang ditahun depan, itupun dengan dalamnya kecemasan, harap dan damba, resah dan gelisah, disisi lain air mata bercampur suka, mengiring langkah pasti Ramadhan pergi. Semesta meneriakkan kepedihannya, jagad raya memekikkan rasa dukanya, bagi si hamba yang sholih diperintahkan padanya untuk menggemakan takbir yang memenuhi segenap cakrawala.

“ Dan hendaklah kalian bertakbir membesarkan Allah ‘azzaa wa jallaa, atas hidayah Allah kalian terima , agar kalian kalian menjadi hamba yang bersyukur pada-Nya “ ( Al Baqarah ; 186 )

Allahu Akbar walillaahil hamdu,

Takbir yang kita kumandangkan semalam, bukanlah sekedar hiasan lisan semata, takbir bukan Cuma rutinitas tahunan saat melepas bulan puasa, takbir yang barusaja kita suarakan juga bukan sekedar nyanyian pedih menyayat hati tanpa makna, bukan itu saudaraku sekalian, bagi insan fitri yang mulia, takbir adalah sebuah pengakuan hamba betapa Maha Besarnya Dia, takbir merupakan ungkapan kesadaran betapa kecilnya kita dihadapan-Nya, takbir adalah refleksi rasa cinta anak manusia pada Tuhannya.

Suatu hari, kaitannya dengan cara manusia mengisi Hari raya, Nabi kita pernah bersabda :

“ Hiasailah hari raya kalian dengan bertakbir “

kenapa kita harus bertakbir, hadirin sekalian, Lihatlah diri kita didepan cermin jiwa, siapa kita yang sebenarnya ? kita tercipta dari setetes air hina, saat kita lahir tak ada sehelai benangpun melekat dibadan kita, hanya menangis yang kita bisa, menangis pertanda lemahnya kita, menangis sebagai luapan tiada daya dan upaya, hina, lemah, miskin papa, tak punya apa apa. Takbirkan perilakumu ! kubur takabburmu ! kumandangkan Alloohu Akbar, karena kita memang hina, karena kita memang lemah, karena kita memang tiada daya. Gempita Allohu Akbar ! adalah pengakuan betapa Besar-Nya Allah, sungguh terasa kecilnya kita, betapa Maha Indah-Nya Allah, sungguh betapa hinanya kita, betapa Maha Mulianya Allah, sungguh begitu rendahnya kita.

coba kita arahkan pandangan mata pada lukisan semesta, siapakah yang menggenggam dan menguasai dunia ini ?, Siapakah Raja yang takkan mati dan tetap abadi ? mentari berputar, bulan beredar, musim berganti, planet planet berterbangan di universal jagad raya, siapakah yang mengatur semua itu ? teriakkanlah Alloohu Akbar, karena hanya Dia yang Maha Besar, hanya Dia Raja diraja yang sesungguhnya, selain Dia kecil semua disisi-Nya.

Saudaraku Insan fitri yang budiman,

satu hal yang perlu kita garis bawahi hari ini, yaitu, TAKBIR jangan cuma kita kumandangkan dimalam hari raya saja, takbir jangan hanya kita gaungkan dihari raya iedul fitri semata, tapi takbir yang sesungguhnya adalah ketika kita mampu membesarkan Allah pada setiap detik kehidupan, saudaraku, pada saat kita mampu menegakkan shalat meninggalkan hiruk pikuk kesibukan dunia, saat itulah kita sedang bertakbir, karena kita penuhi panggilan Allah dan kita kecilkan urusan dunia. ketika kita dihadapkan pada 2 pilihan, pilihan pertama untung besaar tapi dengan cara menipu sesama, memakan riba, menghalalkan berbagai macam cara. Pilihan kedua untung keciil tapi disitu ada keridloan Allah. Ketika kita menjatuhkan pilihan pada opsi yang kedua “ biar untung keciil yang penting Allah ridlo “, saat itulah kita tengah bertakbir, karena kita menomor satukan Allah diatas segalanya. Namun sayang ironinya, masih kita saksikan ada manusia yang setelah semalam suntuk menahan kantuk sambil bertakbir, ia teriakkan dengan lantang pekik kalimat Allohu Akbar, tapi keesokan harinya ia kecilkan Allah dalam kehidupan, berhari raya dalam kemewahan, memenuhi perutnya dengan aneka hidangan dan minuman, saat itulah secara tidak sadar sebenarnya ia sedang meneriakkan kalimat “ Nafsuu Akbar “ “Allooh asghor “ “ Nafsu Maha Besar “ “ Allah keciil “. Malam harinya kitapun tertidur karena kelelahan dalam pangkuan syeithan, panggilan tahajjud bersambung dengan shalat subuh kita acuhkan, masjid sepi kembali seperti keadaannya yang asli, suara takbir dan tadaarusul quran yang sebelumnya saling bersahutan dari masjid ke masjid tidak terdengar lagi. Saat itulah kita dendangkan sebuah lagu kedurhakaan “ kelezatan Dunia Akbar “. Syawwal yang seharusnya menjadi titik awal sebuah peningkatan, berubah total menjadi awal dari kesenangan yang melalaikan. Saat kita kembali pada aktifitas sebagaimana biasa, sebagai politisikah kita, ada yang berperan sebagai pejabat, sebagai pegawai, sebagai pedagang, sebagai pekerja atau sebagai apapun kita, kita pun kembali kepada irama rutin yang dibisikkan iblis kedalam diri kita “ hartaa akbar “, “ kursii akbar “, “syaithaan akbar “, pertanyaannya “ Dimana takbir Allah Akbar yang kemarin kita kumandangkan ?”

Sebagai Muslim, saya hanya ingin mengingatkan diri saya khususnya dan kita semua yang hadir pagi ini, Jangan sampai kemenangan yang kita rayakan hari ini membuat kita lengah dan terlena, memang benar hari ini iblis sempat menangis, ketika kawannya bertanya : “wahai tuan Iblis, kenapa engkau menangis“ Iblis menjawab : “ celakanya aku, telah kugelincirkan manusia 11 bulan yang lalu dengan godaan dosa, telah kucelakakan mereka dengan tipuan kemilau nafsu dunia, tapi hari ini apa yang terjadi,,, dosa dosa mereka telah diampuni, hari ini, catatan hitam kelam karat ma’shiyat telah diputihkan kembali, aduuh celakanya aku “. Tapi awas I rupanya tangis Iblis Cuma sebentar saja, kawan kawannya yang lain mulai menghibur tuannya : “ tuanku iblis, jangan bersedih, mari kita siap putarkan kembali irama lezatnya dosa, mari kita tabuh kembali genderang perang buat manusia, jangan takut tuan, mereka pasti segera menjawab panggilan kita, mereka pasti tertipu dan kalah “, mendengar hiburan dari kawannya tadi iblispun mulai tersenyum, bahkan esok lusa dan seterusnya iblis akan terbahak bahak kembali saat melihat perilaku manusia, berlumur dalam dosa, tertawa dalam kubangan lumpur durhaka. Wal ’iyaadzu billah.

Inilah sumpah dan ikrar iblis didepan Allah,

“ maka dengan sebab Engkau telah menghukumku, maka aku bersumpah akan duduk mengganggu manusia dari jalan-Mu yang lurus, akan aku datangi mereka dari setiap sisi, aku datangi dari arah depan dan belakang, dari kiri dan kanan, sehingga Engkau tidak akan mendapatkan kebanyakan dari mereka yang bersyukur kepada-Mu “ ( Al A’raf : 16 – 17 )

Oleh karena itulah, tantangan buat kita semua hari ini dan seterusnya adalah, Jangan biarkan Iblis tersenyum apalagi tertawa, jangan biarkan mereka terbahak bahak riang gembira, lalu apa yang harus kita lakukan ? dan inilah inti dari khutbah saya pagi ini :

1. Jadikan latihan ramadhan kemarin sebagai modal kita melawan mereka

2. Pertahankan dan bahkan tingkatkan kualitas kedekatan kita kepada Allah dengan memperbanyak amal sholih yang berlandaskan keikhlasan, karena percayalah, iblis tidak akan berdaya menggoda orang orang yang dekat dan akrab dengan Allah.

3. bermohonlah kepada Allah agar kita selalu berada dalam perlindungan-Nya sehingga selamatlah kita dari tipu daya mereka,

4. Lawanlah dia ! kobarkan api permusuhan dengan kumandang takbir Allohu Akbar, katakan pada mereka “..wahai iblis selamat menangis buat selamanya, kau akan tetap bersedih karena kami telah kembali menjadi putih, kami telah lahir kembali seperti bayi. kau akan terus berduka karena kami akan berikrar untuk selalu membesarkan Allah dan mengecilkan semua rayuanmu..“.

semoga khutbah singkat ini besar manfa’atnya buat kita semua,

2 Tanggapan to “SEMESTA BERTAKBIR”

  1. Saya sangat tertarik dengan tulisan anda dan kiranya anda berkenan apabila saya mempubliskannya d grup facebook saya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: