tanya seputar hisab dan rukyat…


T : Mana yang lebih baik, lebih tepat dan akura antara methode hisab dan rukyat dalam menentukan 1 syawal. (Alfin Wildani, Jakarta)

J : Tentang penentuan hilal ramadhan dan syawal ini para ‘ulama Syafi’i berpendapat bahwa ru’yatul hilal (melihat awal bulan) ditetapkan untuk seluruh masyarakat berdasarkan kesaksian seorang yang ‘adil walaupun keadaannya tidak diketahui baik saat langit cerah atau tidak dengan syarat bahwa orang yang menyaksikan itu adalah seorang yang ‘adil, muslim, baligh, berakal, merdeka dan laki-laki dan mengatakan dengan shighot “saya bersaksi”. dalil mereka adalah : bahwa Ibnu ‘Umar pernah melihat hilal lalu dia mengabarkannya kepada Rasulullah saw lalu beliau pun berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa. (HR. Abu Daud)

Adapun bagi pribadi orang yang melihat hilal itu diharuskan baginya berpuasa walaupun dia bukan termasuk orang yang adil (yaitu : fasiq), anak kecil, perempuan, kafir, tidak bersaksi didepan hakim atau ia bersaksi namun tidak terdengar kesaksiannya sebagaimana diwajibkan puasa bagi orang jujur dan dipercaya kesaksiannya.

Tidak diwajibkan berpuasa dengan cara hisab maupun perbintangan walaupun banyak kebenarannya karena tidak ada sandarannya secara syar’i. (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz III hal 1651 – 1654)

Jadi Hisab itu adalah alat bantu untuk menghitung peredaran bulan dan tahun, adapun penentuan akhirnya tetap berdasarkan hasil Rukyat. Dengan demikian yang paling utama dan sekaligus lebih akurat didalam penetapan masuknya awal bulan qomariyah adalah dengan cara ru’yat atau melihat hilal dengan mata telanjang namun jika hilal tidak dapat terlihat dikarenakan langit gelap tertutupi awan serta tidak ada kemudahan untuk menyempurnakan bulan itu menjadi tiga puluh hari maka cara hisablah yang digunakan.

Diantara dalilnnya adalah apa yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Umar bahwa Rasulullah saw bersabda :

لا تصوموا حتّى تروا الهلال ، ولا تفطروا حتّى تروه فإن غمّ عليكم فاقدروا له

Artinya : ”Berpuasalah hingga kalian melihat hilal dan berbukalah hingga kalian melihatnya. Jika ia terhalang bagi kalian maka perkirakanlah.”

Makna فاقدروا له “perkirakanlah” adalah perintah untuk orang-orang yang telah diberikan karunia oleh Allah untuk mengetahui tentang ilmu hisab sedangkan maka فأكملوا العدّة “sempurnakanlah perhitungannya” didalam hadits lainnya adalah perintah untuk manusia secara umum.

Argumentasi lainnya adalah bahwa tidak ada pertentangan antara agama dengan ilmu pengetahuan selamanya. Agama itu sendiri menyeru dan mengajak untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Jadi meskipun tidak ada landasan syar’i yang secara eksplisit menyebutkan tentang hisab ini namun hal itu tidaklah bertentangan dengan agama.

Namun demikian tidak salah jika ada saudara2 kita yang ingin menggunakan methode perhitungan (hisab), dan marilah kita mencoba untuk saling menghormati dan memahami perbedaan methode ini tanpa menyalahkan satu sama lain.

Wallahu A’lam

2 Tanggapan to “tanya seputar hisab dan rukyat…”

  1. alhamdulillah jadfi tambah mantap nih ust

  2. makasih sudah sudi menjawab dan memposting pertanyaan saya. jazakumulloh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: