MELAHIRKAN… BUKAN MENUNGGU KEBANGKITAN


Aku melihat umatku enggan menyerbu musuh
Sedangkan sendi-sendi agama begitu rapuh
Mereka menghindari api karena takut mati
Tanpa menganggap kehinaan
Sebagai akibat yang pasti
(Abu al Muzhaffar al Abiwardi)

Kalimat liris di atas adalah penggalan syair panjang yang ditulis Abu al Muzhaffar al Abiwardi, tentang gambaran kondisi umat Islam, pada era Perang Salib. Awal abad kelima hijriyah, bahkan hingga akhir abad yang sama, kondisi umat Islam terpuruk tak berdaya. Lalu sejarah abad itu, ditutup dengan sangat menyedihkan. Palestina dijarah, Muslim tersandera, oleh Pasukan Salib yang datang jauh dari Eropa.

Direbutnya Palestina hanyalah sebuah pukulan gong akhir. Saat itu, syarat-syarat kekalahan telah lengkap dimiliki umat Islam.

Pada awalnya adalah kekacauan pemikiran, lalu menjelma perpecahan, dan dengan cepat menjadi kanker. Menyerang pertahanan paling vital dari sebuah umat yang ironisnya, memiliki pusaka paling sakti, al-Qur’an dan qudwah Rasul teladan.

Serangan pertama Pasukan Salib ke Palestina, dialami oleh generasi yang masih dibilang pilihan. Para ulama dan dai dari mazhab Hambali, masih memenuhi Palestina dengan amal dan dakwah. Begitu pula dengan tokoh-tokoh dari mazhab Syafi’i, masih mudah ditemui menyebarkan keikhlasan dan kebaikan di seluruh negeri. Begitu pula dengan para guru mazhab Asy’ari, yang selalu siap membekali umat untuk perjalanan mencari jati diri.

Tapi nun di bawah, percik-percik api sudah mulai menjelma bara. Fanatisme mazhab, telah memecah belah umat yang seharusnya kuat. Perselisihan, pelahan mulai memuncak. Masing-masing mazhab, merasa diri sebagai yang paling hebat. Masalah kecil berubah menjadi besar. Mereka beradung lantang, memenangkan umat yang mengambang. Bukan saling berlomba meninggikan Islam. Sementara, gerakan Mu’tazilah menjalar gurita, memanjakan kebebasan berpikir dan menebar racun akidah. Problem besar pun, akhirnya terlupakan. Kaum kuffar sedang diambang pintu, bersiap menyerang.

Sungguh, sejarah hanyalah ulangan cerita dengan pelakon, waktu dan arenanya saja yang berbeda. Hal serupa kini kita alami, sebagai umat Muslim terbesar di dunia. Yang modernis, menyebut kaum tradisionalis dengan sinis. Yang kental muatan lokal, menyebut kaum lain sebagai pengikut ideologi transnasional. Mereka yang menuntut kebaruan, menyebut kaum tua sebagai kolot juga puritan. Kita sibuk mengurusi bendera dan baju sendiri, lalu lupa cara membangun jembatan untuk mempertemukan sudut pandang. Sementara musuh-musuh Islam semakin kencang menabuh gendang.

Dengan sendi-sendi utama yang rapuh, kerusakan terus menjalar ke seluruh tubuh umat. Pendidikan yang menjadi pondasi asas, tak jelas lagi dasar dan orientasinya. Lalu rusaklah tujuan pendidikan yang sangat suci itu. Pendidikan tidak lagi menunjukkan manusia mengenali siapa Tuhannya. Pendidikan tidak lagi mengajarkan, apa dan siapa manusia sesungguhnya. Dan ketika dua hal fundamental ini rusak, maka efek domino akan terjadi dalam berbagai lini kehidupan manusia. Tak kenalnya manusia pada Tuhan dan tujuan penciptaan dirinya, memicu kerusakan lain. Kerusakan multi dimensi, pada ranah sosial, ekonomi, politik dan alam tak terbantahkan.

Namun tiba-tiba, tahapan berikutnya, tanah Palestina melahirkan pejuang-pejuang pilih lawan. Nurudin Zanki dan Shalahuddin al Ayyubi. Menjadi pendekar yang meninggikan kembali panji-panji Islam dan merebut lagi tanah suci, serta mengembalikan kemuliaan umat Islam.

Kemunculan dua pejuang ini, bukan di antar angin untuk menyelamatkan kondisi. Mereka tidak saja dilahirkan, tapi juga dibentuk oleh para ulama yang bermata tajam, berpikiran cemerlang. Ulama-ulama yang tahu, darimana kebangkitan dibangunkan. Mereka memainkan peranan menghidupkan kembali kekuatan spiritual sebagai bahan bakar kesadaran. Lalu berusaha sekuat tenaga menjadi tokoh sentral yang menjadi penerang, sekaligus panutan.

Tokoh-tokoh itu, antara lain seperti Abdul Qadir Jailani, Imam al-Ghazali serta Ibnu Qudamah al Maqdisi. Menariknya, tokoh-tokoh ulama di atas, tidak berkoar-koar tentang kebangkitan yang bersifat fisikal. Mereka justru membangun konsep pendidikan yang seolah-olah tak ada hubungannya dengan usaha membangunkan umat dari kebangkrutan peradaban. Karenanya, tak heran jika ada tudingan al-Ghazali tak pernah mengajarkan jihad pada umat.

Pada masanya, sosok seperti al-Ghazali mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi dalam kekuasaan. Menteri Nizham al Mulk, pada tahun 484 H, mengangkatnya sebagai guru di Madrasah Nizamiyah. Sebuah posisi yang bukan ringan pada zamannya. Ia menemukan makna baru dari hadits yang ia baca, ”Jika kamu melihat keegoan ditaati, nafsu diikuti, dunia diutamakan dan setiap orang berilmu membanggakan pendapatnya, maka kamu harus sibuk membenahi diri sendiri dan hindarkan dirimu dari urusan orang banyak.” (HR. Tirmidzi)

Hadits itu membuatnya melepas jabatan yang tinggi. Ia melakukan kembali kajian tentang kehidupan. Imam al-Ghazali menimbang ulang semua pemikiran, keyakinan, bahkan sudut pandang dari berbagai aliran yang berkembang. Lalu ia menyaringnya dan menyesuaikan dengan al-Qur’an, sunnah dan kaidah Islam.

Al-Ghazali juga menelanjangi jiwa sendiri, dan mencari tahu kecenderungan apa yang ada di dalam hati. Lalu ia menemukan sebuah kesimpulan, seumur hidupnya manusia harus selalu berperang dengan dunia dengan senjata zuhud; Satu-satunya senjata yang akan membuat godaan materialisme hancur tak terkira. Perubahan drastis telah terjadi dalam diri al-Ghazali. Sampai-sampai seorang pejabat tinggi, Anu Syirwan pejabat tinggi di Thus saat bertandang ke rumahnya, terheran-heran alang kepalang.

”Laa ilaha illa Allah. Diakah yang sewaktu muda selalu meminta tambahan gelar kepadaku dan suka memakai sutera. Lalu keadaan sekarang berubah sedemikian rupa,” ujar Anu Syirwan.

Sosok al-Ghazali baru memiliki dua agenda utama. Pertama, ia akan berjuang melahirkan generasi baru ulama dan pemimpin umat, yang mampu bersatu dan tidak terpecah. Ia berusaha membangun generasi yang tak saling sikut dalam mewujudkan cita-cita. Ia ingin mendidik sebuah generasi yang memiliki tujuan satu, memberikan kualitas terbaik dalam proses penghambaan kepada Allah di manapun mereka berada. Kedua, al-Ghazali betul-betul meletakkan pandangannya pada problem-problem besar umat Islam. Ia tidak ingin disibukkan mengatasi gejala, yang ia inginkan adalah menemukan penyebabnya. Karena itu pula lahirlah Ihya Ulumuddin. Sebuah kitab yang mengajak pembacanya di seluruh zaman, untuk mengenal siapa dan apa tujuan manusia.

Sepanjang sejarah intelektualnya, Imam al-Ghazali tak pernah menyerukan jihad melawan kekuatan Salib yang menjajah Palestina. Karena baginya, kekalahan dari sebuah serangan, itu hanyalah gejala. Penyebabnya adalah, lemah dan rapuhnya umat karena hilangnya konsep-konsep fundamental.

Lelaki yang lahir pada tahun 450 H ini benci mencari alasan dan melemparkan kesalahan, pada kekuatan-kekuatan yang mengalahkan Islam. Ia memahami betul firman Allah, “Dan apapun musibah yang menimpa kamu, adalah karena hasil perbuatan tanganmu sendiri.” (As-Syûra [42] : 30)

Maka dimulailah perjuangan al-Ghazali. Ia menulis, ia mengajar dan memperbaiki proses ibadah penghambaan. Ia berkeliling dan berdakwah membersihkan jiwa manusia-manusia Muslim, dari jasad renik godaan material. Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali melakukan rekonstruksi paradigma umat Islam. Ia hendak mengubah pandangan hidup para ulama dan umara, ahli sufi dan orang-orang kaya, bahkan dhuafa dan orang-orang papa. Pena dan madrasah, menjadi kendaraannya untuk bekerja.

Mata pena dan madrasah al-Ghazali inilah yang kelak, berpuluh tahun kemudian melahirkan tokoh besar, Panglima Perang Shalahuddin al-Ayyubi. Bukan mudah, memang. Tidak ringan, memang. Tapi, sungguh niscaya.

Sejarah telah membuktikan, yang berjuang dan mempertahankan agama ini, bukanlah manusia-manusia yang dengan mudah mengangkat pedang karena emosional. Mereka membela, tapi akan dengan mudah kehabisan semangat dan bekal. Kekuatan sesungguhnya adalah orang-orang berilmu yang memahami betul, apa arti dan tujuan berjuang di jalan Allah. Kaum madrasah yang telah memiliki kenal panjang, mereka lah yang akan bertahan membela Islam.

Karena orang-orang seperti ini mengerti benar bagaimana menyatukan niat ikhlas dalam niat dan kemauan, serta faktor ketepatan dalam berpikir dan perbuatan. Keduanya, harus bersama. Tak terpisah atau dihilangkan.

Pertanyaannya kini adalah, jika madrasah-madrasah al-Ghazali melahirkan tokoh-tokoh seperti Nurudin Zanki dan Shalahuddin al Ayyubi, bagaimana dengan kita? Sudah saatnya ada yang memainkan peranan penting, menjadi al-Ghazali baru di abad ini. Kita semua, terlebih para ulamanya, harus berusaha menjadi al-Ghazali baru yang akan membangkitkan Muslim Indonesia. Muslim yang bergerak dan menjelma menjadi kekuatan raksasa untuk menyelamatkan dunia. (KH.Ihya Ulumuddin)

Belum Ada Tanggapan to “MELAHIRKAN… BUKAN MENUNGGU KEBANGKITAN”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: