CIRI IKHLAS DAN KIAT MERAIHNYA.


KATABAHAA : AHMAD MILADY

” BERLAKU IKHLASLAH ENGKAU ! MAKA CUKUPLAH AMALMU YANG SEDIKIT ” (HR. HAKIM)

Subhaanallaah… amal kita yang sedikit jika dilandasi dengan keikhlasan, maka amal itulah yang akan menolong dan mengantarkan kita Ridlo Allah SWT. kita (apalagi jika amal kita banyak yaa… )

Fudhail bin Iyadh pernah memberi komentar tentang ayat 2 surat Al-Mulk, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalaa, supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” Menurutnya, maksud “yang lebih baik amalnya” adalah amal yang didasari keikhlasan dan sesuai dengan sunnah Nabi saw. Seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang dimaksud dengan amal yang ikhlas dan benar itu?” Fudhail menjawab, “Sesungguhnya amal yang dilandasi keikhlasan tetapi tidak benar maka amal itu tidak diterima oleh Allah swt. Sebaliknya, amal yang benar tetapi tidak dilandasi keikhlasan juga demikian. Amal perbuatan itu baru bisa diterima Allah jika didasari keikhlasan dan dilaksanakan dengan benar. Yang dimaksud ‘ikhlas’ adalah amal perbuatan yang dikerjakan semata-mata karena Allah, dan yang dimaksud ‘benar’ adalah amal perbuatan itu sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.” Setelah itu Fudhail bin Iyad membacakan surat Al-Kahfi ayat 110, “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

Ciri Keikhlasan

1. mengutamakan keridhaan Allah diatas segalanya
Saat dihadapkan pada 2 pilihan, dapat untung besar tapi dengan cara menipu rakyat, atau untung kecil tapi Allah ridlo, maka orang yang ikhlas lebih suka memilih untung kecil yang penting disitu terdapat keridloan Allah, karna ia sadar jika Allah sudah ridlo maka apa yang harus ia takutkan, bukanka Allah Pemilik kerajaan langit dan bumi ? bukankah Allah penguasa semesta raya ?? orang yang ikhlas akan memilih seperti pilihan pilihan Masyithoh si tukang sisir keluarga Fir’aun saat ia lebih memilih keridhaan Allah daripada harus menyembah Fir’aun.

2. lebih suka menyembunyikan ‘amal kebajikan
Orang yang tulus adalah orang yang tidak ingin amal perbuatannya diketahui orang lain. Ibarat pohon, mereka lebih senang menjadi akar yang tertutup tanah tapi menghidupi keseluruhan pohon. Ibarat rumah, mereka pondasi yang berkalang tanah namun menopang keseluruhan bangunan.
Suatu hari Umar bin Khaththab pergi ke Masjid Nabawi. Ia mendapati Mu’adz sedang menangis di dekat makam Rasulullah saw. Umar menegurnya, “Mengapa kau menangis?” Mu’adz menjawab, “Aku telah mendengar hadits dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda, ‘Riya (pamer ibadah) sekalipun hanya sedikit, ia termasuk syirik. Dan barang siapa memusuhi kekasih-kekasih Allah maka ia telah menyatakan perang terhadap Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang baik, takwa, serta tidak dikenal. Sekalipun mereka tidak ada, mereka tidak hilang dan sekalipun mereka ada, mereka tidak dikenal. Hati mereka bagaikan pelita yang menerangi petunjuk. Mereka keluar dari segala tempat yang gelap gulita.” (Ibnu Majah dan Baihaqi)

3. Menyadari kekurangan diri
Orang yang ikhlas selalu merasa dirinya memiliki banyak kekurangan. Ia merasa belum maksimal dalam menjalankan segala kewajiban yang dibebankan Allah swt. Karena itu ia tidak pernah merasa ujub dengan setiap kebaikan yang dikerjakannya. Sebaliknya, ia cemas terhadap amal yang dilakukannya tidak diterima Allah swt..
Aisyah r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang maksud firman Allah: “Dan orang-ornag yang mengeluarkan rezeki yang dikaruniai kepada mereka, sedang hati mereka takut bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” Apakah mereka itu orang-orang yang mencuri, orang-orang yang berzina, dan para peminum minuman keras, sedang mereka takut akan siksa dan murka Allah ‘Azza wa jalla? Rasulullah saw. menjawab, “Bukan, wahai Putri Abu Bakar. Mereka itu adalah orang-orang yang rajin shalat, berpuasa, dan sering bersedekah, sementera mereka khawatir amal mereka tidak diterima. Mereka bergegas dalam menjalankan kebaikan dan mereka orang orang yang berlomba.” (HR. Ahmad).

4. tidak perduli dengan popularitas
Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata, “Sedikit sekali kita melihat orang yang tidak menyukai kedudukan dan jabatan. Seseorang bisa menahan diri dari makanan, minuman, dan harta, namun ia tidak sanggup menahan diri dari bujuk rayu kekuasaan. Bahkan, ia tidak segan-segan merebutnya meskipun harus menjegal kawan atau lawan.” Karena itu tak heran jika para ulama salaf banyak menulis buku tentang larangan mencintai popularitas, jabatan, dan riya.
Fudhail bin Iyadh berkata, “Jika Anda mampu untuk tidak dikenal oleh orang lain, maka laksanakanlah. Anda tidak merugi sekiranya Anda tidak terkenal. Anda juga tidak merugi sekiranya Anda tidak disanjung ornag lain. Demikian pula, janganlah gusar jika Anda menjadi orang yang tercela di mata manusia, tetapi menjadi manusia terpuji dan terhormat di sisi Allah.”

5. Keikhlasan hadir saat kita sabar terhadap usaha dan perjuangan yang panjang.
Keikhlasan akan diuji oleh waktu. Sepanjang hidup Anda adalah ujian. Ketegaran Anda untuk menegakkan kalimatNya di muka bumi meski tahu jalannya sangat jauh, sementara hasilnya belum pasti dan kesulitan sudah di depan mata, amat sangat diuji. Hanya orang-orang yang mengharap keridhaan Allah yang bisa tegar menempuh jalan panjang itu. Seperti Nabi Nuh a.s. yang giat tanpa lelah selama 950 tahun berdakwah. Seperti Umar bin Khaththab yang berkata, “Jika ada seribu mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada seratus mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada sepuluh mujahid berjuang di medan juang, aku satu di antaranya. Jika ada satu mujahid berjuang di medan juang, itulah aku!”

6. Ikhlas ada saat kita merasa senang pada kelebihan yang dimiliki orang lain
Yang paling sulit adalah menerima orang lain memiliki kelebihan yang tidak kita miliki. Apalagi orang itu junior kita. Hasad. Itulah sifat yang menutup keikhlasan hadir di relung hati kita. Hanya orang yang ada sifat ikhlas dalam dirinya yang mau memberi kesempatan kepada orang yang mempunyai kemampuan yang memadai untuk mengambil bagian dari tanggung jawab yang dipikulnya. Tanpa beban ia mempersilakan orang yang lebih baik dari dirinya untuk tampil menggantikan dirinya. Tak ada rasa iri. Tak ada rasa dendam. Jika seorang leader, orang seperti ini tidak segan-segan membagi tugas kepada siapapun yang dianggap punya kemampuan.

Kiat untuk menjadi orang yang ikhlas itu ada pada kata kunci ” BISA KARENA BIASA “, memang betul ikhlas itu berat, tidak semudah mengedipkan mata, tak segampang membalikkan telapak tangan, karena itu :

1.teruslah berlatih dan berusaha sebisa mungkin untuk bisa menjadi sosok pribadi yang Ikhlash,
2.terus belajar dan belajar, agar kita bisa dengan jelas memahami manfaat ikhlash ini dan menyadari betapa ruginya kita jika beramal dan beraktifitas tanpa didasari nilai keikhlasan.
3.mohon bimbingan dan tuntunan Allah agar selalu diarah kepada jalannya orang orang yang ikhlash “ALLOHUMMAJ’ALNII MIN ‘IBAADIKAL MUKHLISHIIN”
” YAA ROBB… JADIKANLAH AKU TERMASUK GOLONGAN HAMBA HAMBAMU YANG IKHLASH …. “

5 Tanggapan to “CIRI IKHLAS DAN KIAT MERAIHNYA.”

  1. makasih pak buat ilmunya

  2. asalamualaikum.wr.wb.

    salam kenal…

    semoga bermanfaat bagi saya dan semua…….amin

  3. bagus……^_^

  4. Wach-wach-waaaach….Subhanalloh…masukan yg bagus bangeeeet…smoga bermanfaat utk saya khususnya dan sahabat-sahabat lainnya….Salaaaaaam….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: